Section outline

  • PPT

    Sasaran Pelatihan

    Sasaran pelatihan adalah perilaku yang diharapkan dari para peserta. Sasaran harus menspesifikasi kemampuan peserta untuk melakukan pekerjaan tertentu, dengan tingkat kemampuan tertentu pada kondisi tertentu. Timothy dkk (dalam Mujimin, 2004) menyatakan tujuan rancangan yang dibuat dipakai sebagai panduan dan acuan kegiatan dalam menjelaskan

      tentang hal-hal yang hendak dicapai oleh sistem tersebut. Tujuan ini dibagi dalam tiga bagian kawasan yaitu:

    a. Kognitif, berorientasi pada penambahan kemampuan peserta.

    b. Afektif, berhubungan dengan sikap (attitude), minat, sistem, nilai dan emosi.

    c. Psikomotorik, berorientasi pada keterampilan peserta sehingga terampil dalam suatu

    kegiatan tertentu.

    Sasaran dapat digunakan untuk mengidentifikasi outcomes dari sebuah proses

    pembelajaran yang ingin dilakukan (mengidentifikasi kompetensi), memberikan arah bagi pengembangan materi atau content pembelajaran (memberi batasan dan urutan materi yang sesuai denganoutcomesyang ingin dicapai), dan untuk menentukan bagaimana kegiatan pelatihan dapat berlangsung dengan efektif.

    Dalam sebuah organisasi, Sasaran pendidikan dan pelatihan adalah tersedianya petugas/pegawai yang memiliki kualitas tertentu guna memenuhi persyaratan untuk diangkat dalam jabatan tertentu. Dalam PP No. 101 Tahun 2000, sasaran pelatihan adalah terwujudnya pegawai yang memiliki kompetensi yang sesuai dengan persyaratan jabatan masing-masing. Yang dimaksud dengan kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang petugas berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya.

    Tujuan Pelatihan

    Moekijat (2002: 2) menyebutkan bahwa tujuan pelatihan adalah untuk : (1) Mengembangkan keahlian, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan lebih efektif; (2) Mengembangkan pengetahuan, sehingga pekerjaan dapat dikerjakan secara rasional; dan (3) Mengembangkan sikap, sehingga menimbulkan kemampuan kerjasama dengan teman-teman pegawai dan dengan pimpinan. Sedangkan Mills dalam Artasasmita (2007: 20) menyatakan bahwa tujuan pelatihan adalah untuk menolong peserta pelatihan agar memperoleh keterampilan, sikap, dan kebiasaan berfikir dengan efisien dan efektif. Pengertian tujuan pelatihan tersebut jelas mengungkapkan bahwa pelatihan haruslah menjadi sarana pemenuh kebutuhan peserta pelatihan untuk dapat mengembangkan keterampilan, pengetahuan, sikap yang dapat dimanfaatkan oleh peserta pelatihan setelah mengikuti pelatihan tersebut sesuai dengan kompetensinya sebagai upaya pengembangan usaha.

    Secara khusus dalam kaitan dengan pekerjaan, Simamora dalam Kamil (2010: 11) mengelompokan tujuan pelatihan ke dalam lima bidang, yaitu: (a) Memutakhirkan keahlian para karyawan sejalan dengan perubahan teknologi. Melalui pelatihan, pelatih memastikan bahwa karyawan dapat secara efektif menggunakan teknologi-teknologi baru; (b) Mengurangi waktu belajar bagi karyawan untuk menjadi kompeten dalam pekerjaan; (c) Membantu memecahkan permasalahan operasional; (d) Mempersiapkan karyawan untuk promosi, dan (e) Mengorientasikan karyawan terhadap organisasi.

    Sedangkan menurut Marzuki dalam Kamil (2010: 11) ada tiga tujuan pokok yang harus dicapai dengan pelatihan, yaitu: (a) Memenuhi kebutuhan organisasi; (b) Memperoleh pengertian dan pemahaman yang lengkap tentang pekerjaan dengan standar dan kecepatan yang telah ditetapkan dan dalam keadaan yang normal serta aman; (c) Membantu para pemimpin organisasi dalam melaksanakan tugasnya.